Tidak mengenal umur dan status sosial, tua-muda,
kaya-miskin, pria-wanita, semua kalangan bisa menikmati game. Diciptakan
sebagai hiburan, game berkembang dari waktu ke waktu. Game sebenarnya
memiliki peran dalam perkembangan otak, untuk meningkatkan konsentrasi dan
melatih kecepatan dalam memecahkan masalah. Tetapi game juga bisa
merugikan, apabila sudah kecanduan sampai lupa waktu. Sehingga mengganggu
kegiatan dan aktifitas.
Saat ini game diciptakan untuk komersial. Fenomenanya, game
bukan lagi menjadi hobi dan hiburan
melainkan kebutuhan. Muhammad Ikhsan contohnya, seorang mahasiswa Ilmu
Komunikasi angkatan 2016 Universitas Riau, mulai menyukai game dari kecil,
mulai dari game online di warnet hingga game online di handphone. Ia memainkan
banyak jenis game dan yang paling ia sukai adalah game RTS (Real Time
Strategy) sejenis game DOTA.
Menurut Ikhsan bermain game adalah hiburan, penghilang
bosan, dan berharap suatu hari Ia bisa menghasilkan uang dari bermain game.
Ia menghabiskan waktu sekitar 4 jam dalam sehari. Ia juga rela mengeluarkan
uang demi memperbaharui item yang ada didalam game Royal Pass.
“Saya kagum dengan perempuan yang suka bermain game,
perempuan juga butuh hiburan. Orang yang hidup tapi selalu bermain game itu
terlalu over ya. Karena game seharusnya hanya sebagai hiburan
bukan sebuah kebutuhan. Lain halnya dengan orang yang hidup untuk game
karena profesinya sebagai gamers, ‘kan bisa menghasilkan uang malah
lebih bagus, kenapa tidak?” ungkap Ikhsan saat diwawancara.
Ikhsan juga
menambahkan mahasiswa yang bermain game saat jam kuliah sebagai hal yang
wajar. Terkadang ada waktu dimana mahasiswa merasa bosan dengan materi
perkuliahan yang terasa berat. Tapi bukan berarti bermain terus-terusan, hanya sesekali
saja.
Tragedi
penembakan di New Zaeland yang menewaskan sedikitnya 50 orang muslim dikaitkan
dengan game PUBG. Pelaku dikatakan terinspirasi dari PUBG, sehingga MUI
mengeluarkan fatwa bahwa PUBG haram karena dinilai tergolong sadis. Ini menjadi
pelajaran penting bagi para gamers untuk lebih bijaksana lagi. (Rika)

0 komentar:
Posting Komentar