Kamis, 04 April 2019

Ahmad Oki: Sang Cerpenis





“Menulislah jika ingin dikenang. Jika nanti, aku telah tiada lalu kau rindu temui aku ditulisan-tulisanku,” kalimat ini yang menjadi motivasi Ahmad Oki untuk berkarya. Ia memulai karyanya, dengan mengikuti lomba menulis cerpen yang diadakan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau (FISIP UNRI). Oki meraih juara pertama sebagai apresiasi terhadap karyanya.
Oki mengaku minat menulis telah ada sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.  Berkat kelihaiannya, Ia sering diminta untuk membuat cerpen oleh teman-temannya. Karyanya itu dibayar dengan harga sepuluh ribu rupiah per cerita. Karyanya pernah meraih peringkat satu tingkat kabupaten Rokan Hilir dan dimuat di Pos Metro Rohil selama seminggu.
“Tulisan tidak hanya mentok pada predikat, namun apakah tulisan kita disukai oleh pembaca dan pesan-pesan itu sampai di kepala mereka, dan mampu memotivasi mereka untuk lebih mempercayai dirinya sendiri. Bahwa mereka punya potensi yang berbeda dibandingkan orang lain. Yang terpenting adalah kemauan keras untuk berkarya,” ungkap mahasiswa Hubungan Internasional itu, saat ditemui di kediamannya pada Minggu (24/03).
Kesibukan perkuliahan dan aktivitas di luar kampus tidak membuatnya absen untuk terus menulis cerpen. Pendiri komunitas “Ayo Gerakkan jari” ini tidak suka dengan hal-hal yang membuatnya berhenti berpikir. Baginya, seorang penulis harus selalu mendapatkan inspirasi dari setiap momen.
“Saya masih percaya dengan pepatah, ketika kita dihina jangan tumbang, dan jikapun kita mendapatkan pujian, janganlah mengepakkan sayap dan terbang tinnggi terus lupa pulang. Lambat laun mereka akan mengerti bahwa salah satu faktor keksuksesan kita adalah seberapa besar kita menghargai karya orang lain,” jelas Oki menanggapi orang-orang yang selalu meremehkan karyanya.
Kegiatan positif Oki perlu untuk diapresiasi. Yang ia lakukan bukan saja membanggakan namun turut memberikan motivasi bagi banyak orang. (Safi’i)

0 komentar:

Posting Komentar