Senja
Halo. Namaku senja. Aku suka laut. Koreksi, aku sangat mencintai
laut. Buatku, laut bisa membuatku merasa tenang dan damai. Seperti berada di
surga. Ya, walaupun aku belum pernah pergi ke surga.
Aku juga suka melihat senja di atas laut. Dan kali ini aku sedang
menatap semburat warna jingga yang dilukis oleh tangan Tuhan di Raja Ampat. Cahayanya
berpendar ke segala arah. Membuatku terperangah dan enggan berkedip sedetik pun
karena takjub.
Tepat ketika aku sedang menikmati senja, sudut mataku menangkap
sesosok pria yang menurutku, tanpan juga. Bukan, bukan tampan layaknya artis –
artis korea. Kalau kudeskripsikan wujudnya, badan cowok itu tampak kekar
dibalut dengan kulit kecoklatan, matanya bulat jernih, dia memiliki tulang
hidung yang panjang melengkung, dan senyumnya… tunggu! Apa barusan dia
tersenyum? Oh, tuhan. Dia mendekat dan berjalan ke arahku. Rambut ikalnya yang
tadi terpecik air ikutan bergoyang seiring langkahnya.
“Hai,”
sapanya. Selain senyumnya yang memikat hati, suaranya pun membuat irama jantung
ini tidak beraturan ;agi. Jika diibaratkan dengan nada, mungkin nada jantungku
sudah fals.
“Eh – hai,”
balasku. Uhh, kenapa sih tadi aku
pakai gugup segala? Aku harus melakukan salah satu gerakan yoga yang selalu
diajari instruksiku. Tarik napas perlahan, embuskan.
“Kamu
kenapa tarik napas seperti itu?” Dia bertanya. Aku dapat melihat alis hitamnya
yang tebal tampak menyatu seakan pasukan semut sedang berbaris rapi.
Mati. Ketahuan sekali aku salah langkah. “Hmm,
tidak apa – apa kok, tadi lagi menikmati udara saja. Raja Ampat bagus, ya?” Aku
berusaha mengalihkan pembicaraan.
Dia
tersenyum sekilas. Tanpa dia sadari, segaris senyumnya bisa membuat jantungku
lari meraton. “ya, banyak orang bilang begitu. Kamu baru sekali kesini?”
“Iya,”
jawabku singkat. Seketika lidahku kelu, serasa ada baru tersangkut di
tenggorokan yang membuatku sulit merangkai aksara. Jangankan bicara, bernapas
pun rasanya sudah susah setengah mati.
“Sendiri?”
tanyaya lagi.
“Tidak
kok, keluargaku lagi di hotel.”
Dia
mengangguk – anggukkan kepalanya. “Eh, namanya siapa? Belum kenalan.”
Aku
menyambut uluran tangannya, “Senja”
“Laut,”
sahutnya. Lalut? Apa aku tak salah dengat kalau nama dia Laut?
“Wah,
namamu unik.”
“Namamu
juga,” komentarnya. “Senja. Aku sering memperhatikan senja. Lihat, cantik, kan?
Sama seperti kamu,” lanjutnya seraya menunjuk matahari yang hampir pudar
ditelan lautan. Kembali ke peraduannya.
Sekarang
aku butuh kaca. Aku ingin mel;ihat bagaimana rupaku saat ini. Mungkinkah
seperti tomat? Atau kepiting rebus? Aku tak tahu. Saat ini yang kurasakan
hatiku menghangat dan senyumku merona. Rasa bahagia melingkupiku.
“Senja,
aku pergi ke sana dulu ya. Sepertinya bos memanggilku. Besok masih disini,
kan?” katanya tiba – tiba. Terpatri sedikit kegelisahan di raut wajahnya.
Dahiku
berkerut heran membentuk beberapa lipatan tipis. “Bos?”
“Hmm, iya
dia bosku, aku pelatih diving termuda
di Raja Ampat,” jelasnya dengan nada tidak menyombongkan diri sama sekali. “
Besok kamu masih disini, kan?” Dia mengulang pertanyaannya tadi.
“Iya,
masih koko.”
“Sampai
bertemu besok, Senja.” Kemudian dia pun meleset pergi setelah mengulas senyum
kepadaku.
Kau tahu?
Kurasa barusan hatiku berdesir. Bunyinya seperti pasir yang tertiup angin.
Laut. Mengingat namanya tanpa sadar membuat senyumku mengambang. Mungkin ini
terdengar mengada- ada, terutama bagi engkau yang tidak percaya pada cinta pada
pandangan pertama. Tapi hatiku sudah memutuskan bahwa selain laut, aku juga
menyukai Laut.
Dia tidak
ada disini. Padahal senja sudah merekahkan jingganya. Salahkah jika kau
berharap dia datang menemuiku lagi? Mungkin aku yang teralu berharap. Bahkan
kemarin dia tidak berjanji akan menemuiku lagi. Laut hanya berkata, “Sampai bertemu besok, senja.” Ah, apakah
itu pertanda janji? Atau basa – basi belaka?
Aku tidak
mengerti.
Baru saja
air mataku menetes, mataku menangkap Laut. Ya, laut yang kemarin berbincang –
bincang sebentar denganku. Dia ada disana. Dalam radius sekitar sepuluh meter
dariku. Tapi, dia bersama… entahlah. Aku tak mengenalnya. Mungkin itu salah
satu wisatawan yang menjadi murid di kelas diving-nya.
Tapi….
Aku
menelan ludah. Kenapa tangan mereka saling bertautan? Mungkinkah Laut sudah
punya kekasih? Tanpa terasa dua sungai kecil sudah mengalir di pipiku dan
terjun mengikuti gravitasi bumi. Bergabung bersama butiran – butiran pasir
halus.
Ya, sekali
lagi mungkin aku yang terlalu berharap. Barangkali pertemuan singkat kemarin
tidak berarti apa – apa baginya.
Mungkin
saja pujiannya kepadaku hanya sekedar rayuan belaka. Bukankah laki – laki suka
menebar kata – kata manis? Bodohnya aku mudah percaya dan mengharapkan Laut
yang selalu akan menghangatkan hatiku. Rupanya dia malah menghanyutkan perasaan
yang tergulung ombak lalu terempas ke batu karang. Hancur berkeping – keeping.
Laut.
Bagaimana bisa aku melupakanmu jika kamu selalu mengingatkanku akan kesukaanku?
Apakah aku juga harus membenci laut?
Laut
Hai.
Namaku Laut. Aku suka senja. Koreksi, aku sangat mencintai senja. Bagiku, senja
itu cantik dan bisa membuat jiwaku tenang dan damai. Bahkan aku pernah bermimpi
ingin mempunyai kekasih bernama Senja. Tapi, jarang sekali bukan, perempuan
yang bernama senja? Aku yakin pasti diam – diam kau menganggukkan kepalamu,
mengiyakan pertanyaanku.
Aku
melihat gaids itu. Gadis yang sedang duduk menikmati senja. Sedari tadi mataku
tak letih – letih mengamatinya. Dari sini aku dapat menggambarkan perawakannya.
Harus mulai dari mana? Oh, mungkin dari atas dulu. Rambut panjangnya yang
bergelombang, seketika tanganku ingin merasakan bagaimana rasanya membelai
rambut indah itu. Dari samping wajahnya tampak manis sekali, membentuk siluet
yang membuat organ hatiku terombang – ambing seperti ombak di laut.
Tiba –
tiba dia menoleh, mungkin dia tersadar bahwa aku sedang memperhatikannya.
Segera aku menarik sudut – sudut bibirku ke atas. Entah darimana asal
perintahnya, detik itu juga kakiku berjalan mengampiri gadis itu.
“Hai.” Aku
menyapanya seraya tersenyum. Oh, rupanya gadis ini sungguh sangat cantik.
Seperti senja.
“Eh –
hai,” sahutnya. Nada bicaranya gugup, apakah dia terkejut melihat kedatanganku
yang bagaimana pun juga hanyalah orang asing? Detik kemudian aku dapat melihat
dia menarik napas dan mengembuskannya.
“Kamu kenapa
tarik napas seperti itu?” Tanyaku sedikit penasaran dengan kelakuannya tadi.
“Hmm,
tidak apa – apa kok, tadi lagi menikmati udara senja. Raja Ampat bagus, ya?”
aku tersenyum ketika menjawab pertanyaannya, “Ya, banyak orang bilang begitu.
Kamu baru sekali ke sini?”
“Iya,”
jawabnya singkat. Kenapa kamu menjawab singkat sekali? Aku jadi bingung ini
berbicara apa lagi.
Akhirnya
aku bertanya kepadanya setelah menyadari dia sedang sendirian disini.
“Sendiri?”
“Tidak
kok, keluargaku lagi di hotel.”
Aku mengangguk
– anggukkan kepala sambil memikirkan topic apa lagi ya yang harus kukatakan
untuk berbincang dengannya. “Eh, namanya siapa? Belum kenalan.”
Dia
menyambut uluran tanganku, “Senja.” Aku tidak menyangka gadis ini bernama
senja. Mungkinkah ini hanya kebetulan? Atau tuhan telah sengaja mempertemukanku
dengan gadis senja yang selama ini aku impikan?
“Laut,”
ujarku memperkenalkan diri. Aku dapat melihat bola matanya melebar saat aku
menyebutkan namaku. Barangkali dia tidak percaya bahwa namaku Laut. Nama yang
aneh memang. Tapi, aku bangga. Nama ini pemberian almarhum kakekku.
“Wah,
namamu unik,” pujinya tiba – tiba
“Namamu
juga,” ucapku. “Senja. Aku sering memperhatikan senja. Lihat cantik, kan?sama
seperti kamu.“ aku pun balas memujinya sembari menunjuk kea rah matahari yang
hampir terbenam dan menorehkan semburat jingga.
Kurasa
sekarang senja tersipu malu. Oh, wajahnya seperti udang rebus. Merona sekali.
Tampak menggemaskan.
Dari
kejauhan, aku mendengar bos memanggilku untuk segera kesana, menemuinya.
“Senja, aku pergi kesana dulu ya. Sepertinya bos memanggilku. Besok masih
disini, kan?” pamitku.
Dahi dan
alisnya berkerut. “Bos?” ujarnya dengan nada ragu – ragu.
“Hmm, iya
dia bosku, aku pelatih diving termuda
di Raja Ampat,” jelasku. “Besok kamu masih disini, kan?” aku mengulang
pertanyaanku tadi.
“Iya,
masih kok.”
“Sampai
bertemu besok, Senja.” Kemudian aku pun meleset pergi setelah mengukir senyum
kepada senja.
*
Maafkan
aku, Senja. Aku tidak bisa datang menghampirimu lagi. Namun disii aku dapat
melihat dirimu sedang menikmati senja seorang diri. Mungkinkah kamu menungguku?
Kurasa tidak.
Aku tidak
bisa ketempatmu karena sekarang ada Bulan. Dia salah satu murid diving-ku. Beginilah hidup. Kadang tak
sesuai dengan yang kau inginkan. Kadang tak sejalan dengan apa yang kau
rencanakan.
Aku sadar.
Aku hanyalah pelatih diving yang
gajinya pun tidak seberapa. Sedangkan kamu, Senja, mungkin gadis seusia kamu
tidak perlu membanting tulang, cukup menikmati hasil jerih payah orang tua
saja.
Maka dari itu,
aku membutuhkan Bulan. Dia salah satu pelangganku yang suka membayar lebih jika
aku mau menuruti semua perintahnya. Termasuk menggenggam tangannya. Bulan ini
aku menjadi kekasih selama liburan. Kekasih sesaat, katanya.
Maafkan
aku, Senja. Mungkin kita tidak seperti senja di laut yang saling bersama saat
mentari meudarkan cahayanya. Aku hanyalah laut yang tertutup awan kelabu di
sore hari. Pertanda senja enggan menghampiri.
Untukmu
yang tersimpan di hati. Rindu akan selalu terpatri, Laut. ( CindyMuharara
)
0 komentar:
Posting Komentar