Kamis, 28 Maret 2019

SENJA DI LAUT




Senja
Halo. Namaku senja. Aku suka laut. Koreksi, aku sangat mencintai laut. Buatku, laut bisa membuatku merasa tenang dan damai. Seperti berada di surga. Ya, walaupun aku belum pernah pergi ke surga.

Aku juga suka melihat senja di atas laut. Dan kali ini aku sedang menatap semburat warna jingga yang dilukis oleh tangan Tuhan di Raja Ampat. Cahayanya berpendar ke segala arah. Membuatku terperangah dan enggan berkedip sedetik pun karena takjub.

Tepat ketika aku sedang menikmati senja, sudut mataku menangkap sesosok pria yang menurutku, tanpan juga. Bukan, bukan tampan layaknya artis – artis korea. Kalau kudeskripsikan wujudnya, badan cowok itu tampak kekar dibalut dengan kulit kecoklatan, matanya bulat jernih, dia memiliki tulang hidung yang panjang melengkung, dan senyumnya… tunggu! Apa barusan dia tersenyum? Oh, tuhan. Dia mendekat dan berjalan ke arahku. Rambut ikalnya yang tadi terpecik air ikutan bergoyang seiring langkahnya.

“Hai,” sapanya. Selain senyumnya yang memikat hati, suaranya pun membuat irama jantung ini tidak beraturan ;agi. Jika diibaratkan dengan nada, mungkin nada jantungku sudah fals.

“Eh – hai,” balasku. Uhh, kenapa sih tadi aku pakai gugup segala? Aku harus melakukan salah satu gerakan yoga yang selalu diajari instruksiku. Tarik napas perlahan, embuskan.

“Kamu kenapa tarik napas seperti itu?” Dia bertanya. Aku dapat melihat alis hitamnya yang tebal tampak menyatu seakan pasukan semut sedang berbaris rapi.

Mati. Ketahuan sekali aku salah langkah. “Hmm, tidak apa – apa kok, tadi lagi menikmati udara saja. Raja Ampat bagus, ya?” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.

Dia tersenyum sekilas. Tanpa dia sadari, segaris senyumnya bisa membuat jantungku lari meraton. “ya, banyak orang bilang begitu. Kamu baru sekali kesini?”

“Iya,” jawabku singkat. Seketika lidahku kelu, serasa ada baru tersangkut di tenggorokan yang membuatku sulit merangkai aksara. Jangankan bicara, bernapas pun rasanya sudah susah setengah mati.

“Sendiri?” tanyaya lagi.

“Tidak kok, keluargaku lagi di hotel.”

Dia mengangguk – anggukkan kepalanya. “Eh, namanya siapa? Belum kenalan.”

Aku menyambut uluran tangannya, “Senja”

“Laut,” sahutnya. Lalut? Apa aku tak salah dengat kalau nama dia Laut?

“Wah, namamu unik.”

“Namamu juga,” komentarnya. “Senja. Aku sering memperhatikan senja. Lihat, cantik, kan? Sama seperti kamu,” lanjutnya seraya menunjuk matahari yang hampir pudar ditelan lautan. Kembali ke peraduannya.

Sekarang aku butuh kaca. Aku ingin mel;ihat bagaimana rupaku saat ini. Mungkinkah seperti tomat? Atau kepiting rebus? Aku tak tahu. Saat ini yang kurasakan hatiku menghangat dan senyumku merona. Rasa bahagia melingkupiku.

“Senja, aku pergi ke sana dulu ya. Sepertinya bos memanggilku. Besok masih disini, kan?” katanya tiba – tiba. Terpatri sedikit kegelisahan di raut wajahnya.

Dahiku berkerut heran membentuk beberapa lipatan tipis. “Bos?”

“Hmm, iya dia bosku, aku pelatih diving termuda di Raja Ampat,” jelasnya dengan nada tidak menyombongkan diri sama sekali. “ Besok kamu masih disini, kan?” Dia mengulang pertanyaannya tadi.

“Iya, masih koko.”

“Sampai bertemu besok, Senja.” Kemudian dia pun meleset pergi setelah mengulas senyum kepadaku.

Kau tahu? Kurasa barusan hatiku berdesir. Bunyinya seperti pasir yang tertiup angin. Laut. Mengingat namanya tanpa sadar membuat senyumku mengambang. Mungkin ini terdengar mengada- ada, terutama bagi engkau yang tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama. Tapi hatiku sudah memutuskan bahwa selain laut, aku juga menyukai Laut.

Dia tidak ada disini. Padahal senja sudah merekahkan jingganya. Salahkah jika kau berharap dia datang menemuiku lagi? Mungkin aku yang teralu berharap. Bahkan kemarin dia tidak berjanji akan menemuiku lagi. Laut hanya berkata, “Sampai bertemu besok, senja.” Ah, apakah itu pertanda janji? Atau basa – basi belaka?

Aku tidak mengerti.

Baru saja air mataku menetes, mataku menangkap Laut. Ya, laut yang kemarin berbincang – bincang sebentar denganku. Dia ada disana. Dalam radius sekitar sepuluh meter dariku. Tapi, dia bersama… entahlah. Aku tak mengenalnya. Mungkin itu salah satu wisatawan yang menjadi murid di kelas diving-nya. Tapi….

Aku menelan ludah. Kenapa tangan mereka saling bertautan? Mungkinkah Laut sudah punya kekasih? Tanpa terasa dua sungai kecil sudah mengalir di pipiku dan terjun mengikuti gravitasi bumi. Bergabung bersama butiran – butiran pasir halus.

Ya, sekali lagi mungkin aku yang terlalu berharap. Barangkali pertemuan singkat kemarin tidak berarti apa – apa baginya.
Mungkin saja pujiannya kepadaku hanya sekedar rayuan belaka. Bukankah laki – laki suka menebar kata – kata manis? Bodohnya aku mudah percaya dan mengharapkan Laut yang selalu akan menghangatkan hatiku. Rupanya dia malah menghanyutkan perasaan yang tergulung ombak lalu terempas ke batu karang. Hancur berkeping – keeping.

Laut. Bagaimana bisa aku melupakanmu jika kamu selalu mengingatkanku akan kesukaanku? Apakah aku juga harus membenci laut?

Laut

Hai. Namaku Laut. Aku suka senja. Koreksi, aku sangat mencintai senja. Bagiku, senja itu cantik dan bisa membuat jiwaku tenang dan damai. Bahkan aku pernah bermimpi ingin mempunyai kekasih bernama Senja. Tapi, jarang sekali bukan, perempuan yang bernama senja? Aku yakin pasti diam – diam kau menganggukkan kepalamu, mengiyakan pertanyaanku.

Aku melihat gaids itu. Gadis yang sedang duduk menikmati senja. Sedari tadi mataku tak letih – letih mengamatinya. Dari sini aku dapat menggambarkan perawakannya. Harus mulai dari mana? Oh, mungkin dari atas dulu. Rambut panjangnya yang bergelombang, seketika tanganku ingin merasakan bagaimana rasanya membelai rambut indah itu. Dari samping wajahnya tampak manis sekali, membentuk siluet yang membuat organ hatiku terombang – ambing seperti ombak di laut.

Tiba – tiba dia menoleh, mungkin dia tersadar bahwa aku sedang memperhatikannya. Segera aku menarik sudut – sudut bibirku ke atas. Entah darimana asal perintahnya, detik itu juga kakiku berjalan mengampiri gadis itu.

“Hai.” Aku menyapanya seraya tersenyum. Oh, rupanya gadis ini sungguh sangat cantik. Seperti senja.

“Eh – hai,” sahutnya. Nada bicaranya gugup, apakah dia terkejut melihat kedatanganku yang bagaimana pun juga hanyalah orang asing? Detik kemudian aku dapat melihat dia menarik napas dan mengembuskannya.

“Kamu kenapa tarik napas seperti itu?” Tanyaku sedikit penasaran dengan kelakuannya tadi.

“Hmm, tidak apa – apa kok, tadi lagi menikmati udara senja. Raja Ampat bagus, ya?” aku tersenyum ketika menjawab pertanyaannya, “Ya, banyak orang bilang begitu. Kamu baru sekali ke sini?”

“Iya,” jawabnya singkat. Kenapa kamu menjawab singkat sekali? Aku jadi bingung ini berbicara apa lagi.

Akhirnya aku bertanya kepadanya setelah menyadari dia sedang sendirian disini. “Sendiri?”

“Tidak kok, keluargaku lagi di hotel.”

Aku mengangguk – anggukkan kepala sambil memikirkan topic apa lagi ya yang harus kukatakan untuk berbincang dengannya. “Eh, namanya siapa? Belum kenalan.”

Dia menyambut uluran tanganku, “Senja.” Aku tidak menyangka gadis ini bernama senja. Mungkinkah ini hanya kebetulan? Atau tuhan telah sengaja mempertemukanku dengan gadis senja yang selama ini aku impikan?

“Laut,” ujarku memperkenalkan diri. Aku dapat melihat bola matanya melebar saat aku menyebutkan namaku. Barangkali dia tidak percaya bahwa namaku Laut. Nama yang aneh memang. Tapi, aku bangga. Nama ini pemberian almarhum kakekku.

“Wah, namamu unik,” pujinya tiba – tiba

“Namamu juga,” ucapku. “Senja. Aku sering memperhatikan senja. Lihat cantik, kan?sama seperti kamu.“ aku pun balas memujinya sembari menunjuk kea rah matahari yang hampir terbenam dan menorehkan semburat jingga.

Kurasa sekarang senja tersipu malu. Oh, wajahnya seperti udang rebus. Merona sekali. Tampak menggemaskan.

Dari kejauhan, aku mendengar bos memanggilku untuk segera kesana, menemuinya. “Senja, aku pergi kesana dulu ya. Sepertinya bos memanggilku. Besok masih disini, kan?” pamitku.

Dahi dan alisnya berkerut. “Bos?” ujarnya dengan nada ragu – ragu.


“Hmm, iya dia bosku, aku pelatih diving termuda di Raja Ampat,” jelasku. “Besok kamu masih disini, kan?” aku mengulang pertanyaanku tadi.

“Iya, masih kok.”

“Sampai bertemu besok, Senja.” Kemudian aku pun meleset pergi setelah mengukir senyum kepada senja.

*

Maafkan aku, Senja. Aku tidak bisa datang menghampirimu lagi. Namun disii aku dapat melihat dirimu sedang menikmati senja seorang diri. Mungkinkah kamu menungguku? Kurasa tidak.

Aku tidak bisa ketempatmu karena sekarang ada Bulan. Dia salah satu murid diving-ku. Beginilah hidup. Kadang tak sesuai dengan yang kau inginkan. Kadang tak sejalan dengan apa yang kau rencanakan.

Aku sadar. Aku hanyalah pelatih diving yang gajinya pun tidak seberapa. Sedangkan kamu, Senja, mungkin gadis seusia kamu tidak perlu membanting tulang, cukup menikmati hasil jerih payah orang tua saja.

Maka dari itu, aku membutuhkan Bulan. Dia salah satu pelangganku yang suka membayar lebih jika aku mau menuruti semua perintahnya. Termasuk menggenggam tangannya. Bulan ini aku menjadi kekasih selama liburan. Kekasih sesaat, katanya.

Maafkan aku, Senja. Mungkin kita tidak seperti senja di laut yang saling bersama saat mentari meudarkan cahayanya. Aku hanyalah laut yang tertutup awan kelabu di sore hari. Pertanda senja enggan menghampiri.

Untukmu yang tersimpan di hati. Rindu akan selalu terpatri, Laut. (CindyMuharara
)


0 komentar:

Posting Komentar