Kamis, 28 Maret 2019

Mukhlis Ibrahim: Si Prestatif yang Tak Suka Main Game



Kalau mereka bisa, kenapa saya tidak? Kalimat ini menjadi motivasi bagi Mukhlis Ibrahim untuk mampu berkarya. Ia mencoba peruntungan dengan mengikuti lomba esay di semester dua. Meskipun tidak meraih juara, namun karya pertamanya mendapat penghargaan sebagai esay terbaik.
Mukhlis mengaku semasa SMK tidak pernah mengikuti lomba. Saat itu, dia fokus belajar untuk mendapatkan nilai tertinggi dan menjadi juara umum di SMK Pertanian Kuala Cenamu. Berbeda dengan saat ini, berbagai kegiatan perlombaan baik nasional maupun internasional telah ia ikuti. Hasilnya pun cukup memuaskan. Banyak penghargaan yang berhasil ia bawa pulang.
“Kalah menang itu hal biasa, kalah itu banyak sekali. Teman-teman aja banyak yang gak tahu. Kalau ikut lomba itu ‘kan bersaing dengan teman-teman dari universitas ternama, UI, UGM, ITB, dari sana kita belajar untuk lebih baik,” ungkap mahasiswa Agroteknologi saat diwawancara pada Rabu (20/03).
Waktu main yang kurang akibat sibuk organisasi dan praktikum, tidak menghalanginya aktif mengikuti lomba. Mahasiswa angkatan 2016 ini mengaku cukup selektif dalam memilih lomba. Baginya, lomba yang Ia ikuti harus sesuai bidang keilmuannya. Namun, Ia juga tidak memungkiri bahwa dalam berkarya masih dipengaruhi mood.
Berbeda dengan mahasiswa pada umumnya, laki-laki kelahiran ini tidak menyukai bermain game. Ia merasa bosan karena bukan kebiasaannya. Justru mendengarkan musik merupakan alternatif hiburan bagi dirinya. Mukhlis juga mengatakan, “Main laptop tiap hari, gak tahu ngapain, entah lihat file, pokoknya tiap hari harus negok laptop.”
Ketua Komunitas Penalaran Riset Fakultas Pertanian Universitas Riau ini berusaha berpikir positif dalam menanggapi komentar negatif tentang dirinya. Bagi Mukhlis yang terpenting menjalani hidup dan tidak melakukan kesalahan kepada orang lain. Ia juga menghargai orang-orang yang berbeda darinya.
“Kita memiliki kebiasaan yang tidak bisa kita hindarkan, kayak perokok kalau disuruh berhenti pasti gak langsung mau, kita yang berprestasi belum tentu berhasil di masa depan. Mana tahu mereka lebih berhasil. Perbedaan itu harus dihormati dan jangan patahkan semangat mereka. Paling kasih nasehat jangan terlalu lama,” jelas Mukhlis menanggapi mahasiswa yang menghabiskan waktunya untuk bermain game.
Kegiatan positif Mukhlis sangat perlu diapresiasi. Apa yang Ia lakukan bukan saja membanggakan dirinya, namun juga turut membesarkan nama almamater. Ini tentu menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya, terutama laki-laki. (Dea)

0 komentar:

Posting Komentar