Kalau
mereka bisa, kenapa saya tidak? Kalimat ini menjadi motivasi bagi Mukhlis
Ibrahim untuk mampu berkarya. Ia mencoba peruntungan dengan mengikuti lomba
esay di semester dua. Meskipun tidak meraih juara, namun karya pertamanya
mendapat penghargaan sebagai esay terbaik.
Mukhlis
mengaku semasa SMK tidak pernah mengikuti lomba. Saat itu, dia fokus belajar
untuk mendapatkan nilai tertinggi dan menjadi juara umum di SMK Pertanian Kuala
Cenamu. Berbeda dengan saat ini, berbagai kegiatan perlombaan baik nasional
maupun internasional telah ia ikuti. Hasilnya pun cukup memuaskan. Banyak
penghargaan yang berhasil ia bawa pulang.
“Kalah
menang itu hal biasa, kalah itu banyak sekali. Teman-teman aja banyak yang gak
tahu. Kalau ikut lomba itu ‘kan bersaing dengan teman-teman dari universitas
ternama, UI, UGM, ITB, dari sana kita belajar untuk lebih baik,” ungkap
mahasiswa Agroteknologi saat diwawancara pada Rabu (20/03).
Waktu
main yang kurang akibat sibuk organisasi dan praktikum, tidak menghalanginya
aktif mengikuti lomba. Mahasiswa angkatan 2016 ini mengaku cukup selektif dalam
memilih lomba. Baginya, lomba yang Ia ikuti harus sesuai bidang keilmuannya.
Namun, Ia juga tidak memungkiri bahwa dalam berkarya masih dipengaruhi mood.
Berbeda
dengan mahasiswa pada umumnya, laki-laki kelahiran ini tidak menyukai bermain game.
Ia merasa bosan karena bukan kebiasaannya. Justru mendengarkan musik
merupakan alternatif hiburan bagi dirinya. Mukhlis juga mengatakan, “Main laptop
tiap hari, gak tahu ngapain, entah lihat file, pokoknya tiap hari harus
negok laptop.”
Ketua
Komunitas Penalaran Riset Fakultas Pertanian Universitas Riau ini berusaha
berpikir positif dalam menanggapi komentar negatif tentang dirinya. Bagi
Mukhlis yang terpenting menjalani hidup dan tidak melakukan kesalahan kepada
orang lain. Ia juga menghargai orang-orang yang berbeda darinya.
“Kita
memiliki kebiasaan yang tidak bisa kita hindarkan, kayak perokok kalau disuruh
berhenti pasti gak langsung mau, kita yang berprestasi belum tentu berhasil di
masa depan. Mana tahu mereka lebih berhasil. Perbedaan itu harus dihormati dan
jangan patahkan semangat mereka. Paling kasih nasehat jangan terlalu lama,”
jelas Mukhlis menanggapi mahasiswa yang menghabiskan waktunya untuk bermain game.
Kegiatan
positif Mukhlis sangat perlu diapresiasi. Apa yang Ia lakukan bukan saja
membanggakan dirinya, namun juga turut membesarkan nama almamater. Ini tentu
menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya, terutama laki-laki. (Dea)
0 komentar:
Posting Komentar