SENJA DI LAUT

Surat cinta untuk Starla merupakan salah satu karya terbaik yang diciptakan oleh Virgoun. Lagu yang dinyanyikan oleh mantan..

No Korea, No Life!!!

“Awalnya sih karena nonton drama korea Best Before Flower (BBF) sampai habis makanya jadi tertarik dan suka dengan Korea,”

ORIGAMI HATI

Boy Candra, salah satu novelis Indonesia yang terkenal dengan cerita romansanya. Origami Hati adalah satu dari sekian karyanya

Bercadar Bukanlah Diskriminasi

Ketika ada orang-orang beranggapan bahwa wanita bercadar adalah bentuk diskriminasi atau itu bentuk ketidakadilan bagi wanita

Man Upon The Hill

Star And Rabbit merupakan grup musik indi yang sedang ramai diperbincangkan saat ini. Lagunya yang berjudul Man Upon The Hill

Kamis, 04 April 2019

ManTellnews TEAM


Struktural Anggota

Pimpinan Umum              : Nur Devitriana
Pimpinan Redaksi            : Dea Rezki Gerastri
Pimpinan Perusahaan    : Asri Yowinda
Redaktur Pelaksana        : Dody Putra S
Wartawan                           : Amita Raharjo, Irna Yolanda, M. Syafii Ajiz, Rika, Vilnadevia Simbolon

Preem Thai


Berlokasi di Jalan Lobak, Delima, Pekanbaru. Preem Thai memberikan bermacam varian Thai Tea yang luar biasa enak.
Thai Tea Greentea!! Minuman sperti kehidupan kita, ada manis dan pahit!! Greentea tidak pernah membohongi rasanya, begitu juga kita seharusnya. Minuman dengan dua sensai sekaligus yang sangat cocok buat kita.

Acind Chicken Hadirkan Cita Rasa dengan Kualitas Terbaik



Pasar makanan saat ini telah menjamur di kalangan masyarakat. Terlebih makanan berbahan dasar ayam. Pasar makanan berbahan dasar ayam di Indonesia telah didominasi oleh perusahaan makanan cepat saji asing yang lebih menjadi sorotan kebutuhan pasar. Namun pengusaha-pengusaha muda Indonesia tidak kehilangan inovasinya untuk menghasilkan produk-produk makanan terbaru meski dengan berbahan dasar yang sama.
Dua Mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Riau, Asri Yowinda dan Shindy Jafriyanti telah menghadirkan suatu produk makanan dengan cita rasa dan kualitas terbaik yaitu “Acind Chicken”. Acind Chicken adalah produk makana berbahan dasar ayam dengan berbagai menu, antara lain: Chicken Souce, Chicken Wings Souce dan Kulit Krispi. Produk makanan ini dibandrol dengan harga yang disesuaikan dengan kantong mahasiswa yaitu Rp.10.000/porsi.
            Acind Chicken sangat cocok dikonsumsi baik sebagai cemilan maupun lauk makan. Diolah dengan ayam segar dan souce yang diolah dengan resep sendiri. Acind Chicken juga memberikan promo menarik yaitu gratis ongkir untuk daerah tertentu. Agar maksimal dalam menikmati rasanya, Acind Chicken baik dikonsumsi dalam keadaan hangat. (Asri)


Surga yang tak dirindukan 2 : Akhir yang memilukan



Film “surga yang tak dirindukan 2” merupakan kisah yang diangkat dari novel karangan asma nadia.  Film yang di sutradarai oleh Hanung Bramantyo. MD pictures tak main-main dalam membuat film ini, rumah produksi yang dipimpin oleh Manoj Punjabi begitu total dalam menggarap film yang di sutradarai oleh rekanya ini, selain menghadirkan kisah yang dramatis, MD Pictures juga menawarkan banyak hal baru dalam film ini. Hanung Bramatyo berhasil membawa film ini menjadi film unggulan di festival film Indonesia, kategori pencipta lagu tema terbaik, pengahargaan citra yang diterima oleh melly goeslow.
Masih di bintangi oleh pemain lamanya, surga yang tak dirindukan melanjutkan kisah arini (laudya cintia bella) dan pras (fedy nuril). Dikisahkan setelah kepergian meirose (raline shah), arini dan pras hidup bahagia dengan putrid semata wayangnya nadia (sandrina). Karir arini semakin melonjak sebagai penulis, tak hanya di kenal di Indonesia, nama arini pun juga terkenal di luar negri. Suatu ketika arini mengajak nadia dan manajernya (nora Danish) untuk memenuhi undangan di Budapest, hungaria. Siapa sangka dikota itulah kisah percintaan segitiga arini, pras dan meirose dimulai. Tak sengaja arini bertemu dengan meirose, meirose yang di temani oleh putranya akbar, nadia anak nya arini senang tak terbendung karena dapat bertemu kembali dengan akbar.
Perasaan canggung pun mulai terasa oleh arini dan meirose, bagaimana tidak mereka berdua sempat menjadi istri tua dan istri muda walaupun akhirnya meirose memilih untuk pergi dari kehidupan pras dan arini. Setelah memilih pergi meirose pun berhasil move on dan pindah ke Budapest, hungaria dan menata kembali hidupnya, kini meirose memiliki seorang kekasih yang bernama Syarif (reza rahadian) yang merupakan seorang dokter. Meirose pun berniat menceraikan pras, namun niat tersebut terhalang karena perasaanya yang tidak dapat dibohongi, apalagi arini setuju kalau meirose hadir di tengah keluarga mereka kembali.
Pada suatu ketika arini mengajak meirose bermain kerumah nya, dan berkumpulah mereka di rumah arini, perasaan canggung mulai muncul kembali saat mereka sedang berada di meja makan, pras hanya terdiam dan kaget melihat kedatangan meirose. Cinta meirose pun kembali bersemi saat melihat pras (fedy nuril)
Dan akhirnya inilah moment yang paling memilukan dalam film surga yang tak di rindukan ini, arini mengidap penyakit kanker stadium akhir, arini sadar bahwa umur nya tak lama lagi, arini berpesan kepada pras untuk menikahlah kembali dengan meirose demi anak mereka, namun pras bersikeras untuk tidak menerima permintaan istrnya yang amat ia sayangi itu. Berkali-kali arini membujuk pras dan meirose untuk bersatu kembali demi nadia dan demi dia. Dalam film ini Hanung Bramantyo kerap mendapat komentar bahwa film surga yang tak dirindukan ini ajarkan pria berpoligami. Film yang dibintangi beberapa pemain berbakat ini dianggapnya sebuah film yang wajar dan sering terjadi di masyarkat khususnya di Indonesia, dengan tudingan tersebut tidak menyurutkan semangat mereka untuk menyelesaikan film ini.
Dalam suatu keadaan Meirose bimbang karena meirose telah dilamar oleh kekasih nya yaitu dokter Syarif, pertanyaan pun muncul siapakah pria yang akan dipilih oleh meirose, Pras atau Dokter syarif? Pertanyaan ini akan di jawab diakhir cerita.
Hari ke hari keadaan Arini kian memburuk, Arini tetap mengingatkan sang suami untuk menerima permintaan nya, dengan selang infus dimana-mana, selang oksigen dan suntikan obat yang selalu masuk ke dalam tubuh arini, Saat hembusan nafas terakhir, Arini bertanya kembali dengan suara yang sangat lemah dan bertanya untuk terakhir kalinya dengan meirose, dimana pada saat itu Arini ditemani oleh suaminya yaita pras dan anak nya nadia, terlihat dari jendela kamar rumah sakit manajer dan teman  nya juga menemani Arini saat sedang masa kritis. “Apakah kamu mau menggantikan aku sebagai ibu nadia dan sebagai istri mas pras, aku mohon ini demi aku dan nadia?” begitulah kira-kira pertanyaan singkat terakhir kali nya yang arini lontarkan, dengan tangan yang digenggam oleh pras, arini dan meirose, dengan tangisan yang semakin menyeruak, penonton juga ikut merasakan kepedihan yang dirasakan arini, dimana saat sedang sakit parah stadium akhir arini masih mampu membagi cintanya (suami dan anak) kepada orang lain, perempuan mana  yang tidak pilu melihatnya, pada moment inilah emosi penonton dibuat bergejolak, bagaimana tidak laki-laki yang bernama pras mampu mencuri dua hati perempuan yang sangat cantik, banyak berita miring mengenai film ini karena mengajarkan pria untuk berpoligami, tentu saja tidak ada perempuan manapun yang mau di madu.
Akhir cerita meirose setuju untuk mengurus nadia dan pras, meirose lebih memilih pras dari pada dokter syarif kekasih yang telah melamarnya itu, Arini meninggal saat sholat subuh berjamaah di sebuah rumah sakit, dengan selang infuse dan selang oksigen, dan emosi penonton dibuat bergejolak kembali saat nadia melepas kepergian ibunya untuk selamanya. Saat moment pernikahan Pras dan Meirose dari kejauahan pras melihat sesosok perempuan yang sangat cantik di kursi tamu undangan pernikahan, tak lain dan tak bukan adalah itu bayangan arini istri pras yang turun dari surga untuk melihat moment bahagia mereka yaitu Pras dan Meirose.
Surga yang tak dirindukan mampu memberikan tontonan yang patut disaksikan oleh semua kalangan, meski dibalut drama pilu berkepanjangan, namun film ini mampu memberikan tontonan yang penuh dengan pesan moral, dan yang pasti filmnya menawarkan ending yang mengejutkan di akhir cerita. (Rhj)

Akbar Islami : Organisasi YES, Akademis YES!!!!



Aktivis kampus dianggap sebagai sosok yang hanya peduli akan kehidupan organisasi. Kadang cenderung mengabaikan bidang akademis yang seharusnya lebih penting, sehingga mengakibatkan nilai kuliah yang tidak memuaskan. Namun, tidak bagi Akbar Islami, Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang memiliki nilai akademis yang luar biasa.
Lelaki berumur 22 tahun ini sekarang tercatat sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan di Universitas Riau (UNRI). Mengawali perjalanan berorganisasi sejak di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) mahasiswa yang akrab dipanggil Abe ini telah diamanahkan menjadi ketua OSIS. Hal ini berlanjut hingga di perkuliahan. Sebelum menjabat sebagai gubernur mahasiswa (Gubma) Ia pernah diamanahkan menjadi Sultan di sanggar tari Titah Negeri FISIP UNRI.
Semoga lelah ini menjadi lillah menjadi motivasinya selama ini. Ia mencoba membagi waktu antara organisasi dan akademis. Abe juga aktif mengikuti lomba bahkan tidak jarang memenangkan lomba tersebut. Semua dilakukan dengan menyusun rangkaian kegiatan dan membagi waktu yang seimbang.
Mahasiswa yang berkesempatan mengikuti Kuliah Kerja Nyata Kebangsaan di Lampung ini mampu menunjukan bahwa organisasi utama, tapi kuliah nomor satu! dapat diterapkan dengan baik. Abe menjadi salah satu contoh yang perlu diapresiasikan dan berhak menjadi panutan. (Dody)

Ahmad Oki: Sang Cerpenis





“Menulislah jika ingin dikenang. Jika nanti, aku telah tiada lalu kau rindu temui aku ditulisan-tulisanku,” kalimat ini yang menjadi motivasi Ahmad Oki untuk berkarya. Ia memulai karyanya, dengan mengikuti lomba menulis cerpen yang diadakan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau (FISIP UNRI). Oki meraih juara pertama sebagai apresiasi terhadap karyanya.
Oki mengaku minat menulis telah ada sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.  Berkat kelihaiannya, Ia sering diminta untuk membuat cerpen oleh teman-temannya. Karyanya itu dibayar dengan harga sepuluh ribu rupiah per cerita. Karyanya pernah meraih peringkat satu tingkat kabupaten Rokan Hilir dan dimuat di Pos Metro Rohil selama seminggu.
“Tulisan tidak hanya mentok pada predikat, namun apakah tulisan kita disukai oleh pembaca dan pesan-pesan itu sampai di kepala mereka, dan mampu memotivasi mereka untuk lebih mempercayai dirinya sendiri. Bahwa mereka punya potensi yang berbeda dibandingkan orang lain. Yang terpenting adalah kemauan keras untuk berkarya,” ungkap mahasiswa Hubungan Internasional itu, saat ditemui di kediamannya pada Minggu (24/03).
Kesibukan perkuliahan dan aktivitas di luar kampus tidak membuatnya absen untuk terus menulis cerpen. Pendiri komunitas “Ayo Gerakkan jari” ini tidak suka dengan hal-hal yang membuatnya berhenti berpikir. Baginya, seorang penulis harus selalu mendapatkan inspirasi dari setiap momen.
“Saya masih percaya dengan pepatah, ketika kita dihina jangan tumbang, dan jikapun kita mendapatkan pujian, janganlah mengepakkan sayap dan terbang tinnggi terus lupa pulang. Lambat laun mereka akan mengerti bahwa salah satu faktor keksuksesan kita adalah seberapa besar kita menghargai karya orang lain,” jelas Oki menanggapi orang-orang yang selalu meremehkan karyanya.
Kegiatan positif Oki perlu untuk diapresiasi. Yang ia lakukan bukan saja membanggakan namun turut memberikan motivasi bagi banyak orang. (Safi’i)

Mahasiswa VS Mahasiswi, Siapa Lebih Unggul?


Belajar di kelas sebagai formalitas, mahasiswa juga dituntut mendapatkan pengalaman lebih dari berorganisasi. Menjadi mahasiswa memang harus mandiri. Dibutuhkan usaha lebih untuk pencapaian yang maksimal. Persaingan tidak dapat dihindari. Setiap mahasiswa memiliki kelebihan masing-masing. Meskipun demikian, terlihat perbedaan antara mahasiswa dan mahasiswi dalam proses belajar mengajar.
“Kita, sebagai Dosen ya pasti memberi kesempatan yang sama pada semua mahasiswa, tidak ada pilih kasih sama mahasiswa laki-laki yang harus jadi komting kelas, atau mahasiswi perempuan, tidak seperti itu. Apa yang kita beri ya kita beri sama rata, tidak ada tidak berimbang atau berat sebelah untuk mahasiswa laki-laki atau mahasiswi perempuan. Semua punya kesempatan yang sama,” jelas Yasir selaku Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Riau saat di jumpai di ruangan, Jumat (21/03).
Mahasiswi perempuan lebih berprestai di banding Mahasiswa laki-laki hanyalah streotip yang berkembang di kalangan mahasiswa saja. Tidak salah, hal ini dinilai karena perempuan lebih aktif di kelas. Pada kegiatan luar kuliah, perempuan juga tidak kalah dibandingkan laki-laki dalam pencapaiannya.
“Yaa mungkin juga ini karna jumlah mahasiswi perempuan yang lebih banyak daripada mahasiswa laki-laki, sehingga persaingan tidak seimbang. Selain itu juga, adanya teknologi seperti gadget, internet, sosial media yang sedikit banyaknya tentu itu mempengaruhi semangat belajar mahasiswa. Yang pasti kita sebagai dosen yang mengajar selalu berusaha membimbing dan mengarahkan dengan memberi porsi yang sama dan tidak berat sebelah kepada mahasiswa ataupun mahasiswi. Yaa yang mau dapat, ya belajar. Yang mau tau lebih ya baca, jadi siapa yang tau siapa bisa kita beri kesempatan,” papar Nurjannah menanggapi stereotip ini. (Yana)